Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Sepakbola    Kuliner    Film   
Home » » Korban hipnotis, Perhiasan Jadi Imitasi

Korban hipnotis, Perhiasan Jadi Imitasi

Posted by BERITA on Thursday, 4 May 2017


Polsek Rumbia, Lampung Tengah (Lamteng), membekuk dua tersangka penipuan dan penggelapan dengan cara menghipnotis korban yang ingin memeriksakan kesehatan dan mengobatinya, Selasa (2/5) sekitar pukul 17.00 WIB. Yakni Tarsim (55), warga Kelurahan Jagabaya II, Kecamatan Sukabumi, dan Sutardi (52), warga Kelurahan Gunungsulah, Kecamatan Wayhalim, Bandarlampung.

Kapolsek Rumbia AKP Edi Qorinas mengatakan, kedua tersangka yang berpura-pura sebagai tenaga medis ditangkap berdasarkan laporan korban Riwayati (60), warga Kampung Binakarya Jaya, Kecamatan Putrarumbia. ’’Korbannya nenek-nenek yang ingin memeriksakan kesehatannya. Nenek-nenek ini pakai perhiasan emas,” katanya.

Modus operandi kedua tersangka, mendatangi kediaman korbannya dengan mengendarai motor Jupiter Z. “Setelah itu, tersangka mencoba mendeteksi kesehatan korban menggunakan alat yang biasa digunakan tenaga medis. Dikarenakan korban mengenakan kalung emas, tersangka beralasan tidak bisa terdeteksi dan meminta korban melepaskan semua perhiasan emasnya. Korban pun menurutinya,” ujarnya.

Setelah itu, tersangka mencoba mengalihkan perhatian korban terhadap perhiasan emasnya dengan menyuruh menggerakkan tangannya atau senam ringan. “Nah ketika korban mulai lupa perhiasan emasnya, rekan tersangka mengambil emas korban dan menukarkan dengan yang imitasi. Setelah mendapatkan apa yang diperoleh, kedua tersangka langsung pergi,” ungkapnya.
Korban yang baru menyadari menjadi korban penipuan atau hipnotis langsung melaporkan kepada Kepala Kampung Kodiran dan diteruskan ke Polsek Rumbia.

“Mendapat informasi ini, kita langsung bergerak ke TKP. Kemudian berhasil menangkap kedua tersangka di jalan Pasar Rumbia. Kita langsung mengamankan kedua tersangka ke Mapolsek Rumbia berikut barang bukti kalung emas 24 karat seberat 10 gram, satu kalung imitasi, lima cincin imitasi, dan alat kesehatan. Tersangka kita jerat pasal 372 dan 378 KUHP dengan ancaman maksimal 10 tahun penjara,” ungkapnya.

Sedangkan Tarsim mengaku bahwa dirinya bersama rekannya baru kali beraksi di Lamteng. “Baru satu kali beraksi di sini. Kemudian dua kali di Lampung Timur,” akunya. Alasan melakukan perbuatan ini karena kebutuhan ekonomi. “Kebutuhan keluarga. Anak saya lima belum ada yang kerja. Saya juga tidak pekerjaan lain,” ujarnya.

Sutardi menambahkan, sasaran korbannya orang-orang tua dan perempuan. “Nenek-nenek sasarannya. Meski banyak yang percaya, setiap beraksi juga tidak selalu berhasil. Terkadang ada yang tidak mengenakan perhiasan emas,” ucapnya.

SHARE :